Senin, 16 November 2015

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 177 TENTANG KEBAJIKAN

A.    SURAT AL-BAQARAH AYAT 177
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

B.     TERJEMAHAN
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

C.     PENJELASAN KEBAHASAAN
Hamzah an Hafsh membaca kata  الْبِرَّ dengan menggunakan harakat fathah, karena dinasabkan oleh kata لَّيْسَ , dan kata لَّيْسَ termasuk saudaranya كان yang menasabkan kata benda pertama (isim) dan merafa’kan kata benda kedua (khabar). Namun pada ayat ini kata الْبِرَّ menempati posisi khabar لَّيْسَ dan kalimat أَن تُوَلُّواْ menempati posisi isim لَّيْسَ. Peletakan ini terjadi, karena mashdar (kata benda) pertama dari isim لَّيْسَ haruslah sebuah kata yang tidak dapat dinakirahkan , sedangkan kata kerja pada ayat أَن تُوَلُّواْ lebih diunggulkan untuk menjadi kata ma’rifat.

D.    ASBABUN NUZUL

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari, imam Qurtubi dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Qatadah: Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (Al-Baqarah ayat 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah Saw tentang “Al-Birr” (kebaikan). Maka turunlah ayat ini.
Sebuah riwayat dari Qatadah lainnya menyebutkan : pada masa sebelum diturunkanya syari’at kewajiban, jika seseorang telah mengucap syahadat “Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuuluhu”, kemudian meninggal disaat ia tetap beriman maka bisa dipastikan akan memperoleh surga. Lalu setelah itu Allah menurunkan ayat ini.
Riwayat lain dari Rabi’ dan juga Qatadah menyebutkan : ayat ini diturunkan kepada orang-orang yahudi dan nasrani, karena mereka berselisih pendapat mengenai arah kiblat. Orang-orang yahudi berkiblat ke arah barat, tepatnya baitul maqdis, sedangkan orang-orang nasrani berkiblat kearah timur, tepatnya terbitnya matahari. Lalu mereka berdebat mengenai pemindahan kiblat tersebut, dan setiap kelompok mempertahankan kiblat yang mereka miliki. Lalu turunlah ayat ini.
Riwayat oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-dhahak, Atha’, Sufyan dan juga Az-zujaj menyebutkan: pada saat Nabi melakukan hijrah ke kota Madinah, disanalah diwajibkannya segala kewajiban (selain shalat), dan kiblatpun dipindah kearah ka’bah di masjidil haram, kemudian ditetapkan juga pada saat itu segala hukuman. Lalu turunlah ayat ini.
Riwayat oleh Ad-daruquthni dari Fatimah binti Qais, ia berkata Rasulullah pernah bersabda  ان في المال لحقا سوى الزكاة “sesungguhnya didalam harta itu ada kewajibanselain zakat”. Lalu turunlah ayat ini.   
E.     MUNASABAH AYAT
Ayat sebelumnya menyeru orang mu`min untuk memakan yang halal dan menjauhi yang haram, kemudian mengecam orang yang menyembunyikan hukum Allah. Dengan demikian tegaslah bahwa orang mu`min tidak boleh menyembunyikan kebenaran. Orang yang menyembunyikan kebenaran, sama dengan meniru orang yang tidak beriman. Ayat berikutnya mengungkap sifat mu`min yang senantiasa menjalankan kebaikan.
F. PENJELASAN PENAFSIRAN
1.  لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,
Ketika perpindahan qiblat dari al-Masjid al-Aqsha ke al-Masjid al-Haram, orang yahudi dan nashrani beranggapan bahwa kaum muslimin mempunyai kiblat yang kurang baik. Sementara kaum muslimin pun beranggapan bahwa kiblat yahudi ke barat, dan kiblat nashara ke timur, juga tidak akan mendapat kebajikan. Ayat ini sebagai penegasan bahwa kebaikan bukan ditentukan oleh arah kiblat. Arah kiblat hanya berfungsi sebagai kesatuan arah, bukan prinsip ibadah. Adapun pengertian al-Birr secara tafsirnya pernah dipertanyakan oleh النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ  dia mengatakan:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ saya bertanya pada Rasul tentang arti al-Bir dan al-Itsm. Rasul SAW bersabda: bahwa al-Birr adalah budi pekerti yang baik. Sedangkan al-Itsm ialah apa yang terbetik di hatimu, dan kamu sendiri tidak senanag tatkala manusia mengetahuinya. Hr. Muslim.
Dengan demikian hakikat kebaikan bukan terletak pada arah ke mana menghadap, bukan ditentukan oleh kemana berkiblat.

2. وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَakan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab2, nabi-nabi
Iman merupakan asas yang mendasar dalam kebaikan. Tidak termasuk kebaikan yang sempurna tanpa didasari iman. Rukun iman pada ayat ini disebut iman pada Allah, hari akhir, mala`ikat dan kitab serta para nabi. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa rukun iman itu adalah enam. Rasul SAW bersabda: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ iman adalah beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad. Dengan demikian kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan definsi iman dengan التَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.

3. وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
Dasar kebaikan yang kedua adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia dengan cara menysihkan harta untuk kepentingan kerabat, anak yatim, orng miskin, anak terlantar, yang meminta dan memerdekakan hamba sahaya. Infaq harta merupakan dasar kebajikan yang kedua setelah beriman. Jika iman sangat erat kaitannya dengan kesehatan spiritual dan ritual, maka membantu sesama sebagai manifestasi kebaikan yang bersifat sosial. Dalam ayat lain ditandaskan: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.Qs.3:92
Berdasar ayat ini, sarat meraih kebajikan yang sempurna adalah menafqahkan harta yang sangat dicintai. Namun bukan berarti infaq dengan harta yang kurang dicintai itu tidak bernilai. Apa pun yang dinafqahkan asalkan dilakukan secara ikhlash akan tetap mendapat pahala dari Allah SWT sebagaimana ditandaskan pada pengunci ayatnya وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ.
Disamping itu, nilai infaq juga dipengaruhi oleh sasarannya kepada siapa dan untuik apa disalurkan. Semakin banyak manfaat yang diinfaqkan akan semakin besar pahalanya. Rasul SAW bersabda: مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فَاضِلَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبِسَبْعِ مِائَةٍ وَمَنْ أَنْفَقَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ عَلَى أَهْلِهِ أَوْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ مَازَ أَذًى عَنْ طَرِيقٍ فَهِيَ حَسَنَةٌ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا Barangsiapa yang menginfakan harta di jalan Allah, nilainya tujuh rastus kali lipat. Barang siapa yang mengeluarkan nafaqah untuk dirinya, atau keluarganya, atau menengok orang sakit, atau untuk menyingkirkan kendala dari jalan, maka termasuk kebaikan yang nilainya sepuluh kali lipat. Hr. Ahmad, al-Bayhaqi.[7] Derajat infaq ditinjau dari sasarannya dapat digambarkan berikut:

4. وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;
Dasar kebajikan ketiga adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Shalat dan zakat tidak terpisahkan. Dalam berbagai ayat bila ada perintah shalat selalu dirangkaikan dengan perintah zakat. Dalam kalimat sebelumnya dikemukakan bahwa dasar kebajikan adalah memberikan sebagian harta untuk kepentingan social seperti anak yatim, kerabat, ibn sabil, memerdekakan hamba dan miskin. Kemudian pada ayat ini ditegaskan kewajiban berzakat. Tegasnya orang yang hanya memenuhi kewajiban berzakat yang difardlukan belum termasuk dermawan bila belum berinfaq melebihi zakat. Seorang mu`min, baru mencapai kebajikan yang sempurna bila telah mengeluarkan zakat yang wajib, disertai infaq tambahan yang bersifat tathawwu’.

5. وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
Dasar kebajikan keempat adalah memenuhi janji. Bila pada ayat seblumnya dikemukakan perinsip aqidah yaitu keimanan, kemudian prinsip syari’ah yaitu shalat dan zakat, serta ptinsip mu’amalah yang menjalin hubungan baik sesama manusia, maka ayat ini berkaitan dengan prinsip akhlaq yaitu memenuhi janji. Memenuhi janji juga merupakan prinsip utama yang tidak terpisahkan dengan keimanan. Anas bin Malik menerangkan bahwa dalam salah satu khuthbah Rasul AW bersabda: لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ tidak ada iman tanpa ada kejujuran, tidak ada islam tanpa menepati janjinya. Hr. Ahmad, al-Baihaqi. Janji merupakan hutang yang mesti dipenuhi, dan akan dimintai pertangungan jawab di akhirat kelak. Allah SWT berfirman: وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا  penuhilah jani. Sesungguhnya janji itu akan dimintai tanggung jawabnya di akhirat kelak.
6. وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Dasar kebajikan kelima adalah shabar menghadapi berbagai bencana sepertio pada penderitaan, kesempitan, kesusahan dan peperangan. Jika prinsip kebajikan keempat akhlaq yang hubungannya dengan sesama manusia, maka pada prinsip ini akhlaq yang ada hubungannya dengan diri sendiri yaitu shabar. Shabar pada dasarnya adalah pengendalian diri tatkala menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan.


7. أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ  Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa
Pengunci ayat ini sebagai penegas bahwa orang yang meemunhi dasar kebaikan; baik dalam kaitan keimanan seperti iman kepada yang enam, dalam kaitan dengan social seperti menjalin hubungan baik pada sesama manusia dan membantu yang butuh, berkaitan dengan ibadah seperti shalat dan zakat, kaitan dengan akhlak sesama seperti memenuhi janji, dan akhlaq pada diri sndiri seperti shabar dalam mengatasi berbagai kesusahan, adalah termasuk keriteria mu`min yang benar dan bertaqwa.
G.    KESIMPULAN
Yang dimaksud dengan kebaikan pada surah Al-baqarah Ayat 177 ini adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari. Para ulama’ mengatakan bahwa ayat ini tergolong ayat yang paling agung dari pokok ajaran-ajaran Islam, karena ayat ini berisi enam belas kaidah mendasar.
Contoh-contoh dari berbuat kebajikan
 tersebut antara lain sebagai berikut:
1.      Mendirikan shalat dan menjalin silaturrahim kepada kerabat dan tidak memutuskannya.
2.      Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang membutuhkannya.
3.      Memberikan bantuan kepada anak yatim.
4.      Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan.
5.      Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta.
6.      Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian.

DAFTAR PUSTAKA
Ath-Thabari, Jarir, 1995.  Jami'ul bayan fi Ta'wil al-Qur'an. Beirut : Dar al-Fikr.
Ash-shabuni, Ali (penj.K.H.Yasin). 2011. Shafwatut Tafasir, Tafsir-tafsir Pilihan Jilid 1. Jakarta : PUSTAKA AL-KAUTSAR. 

Kamis, 21 Mei 2015

ALAM BARZAH

ALAM BARZAH
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah :  Tauhid
Dosen Pengampu   : Dra. Hj. Siti muanawarah Thowaf, M.Ag




Disusun oleh :
Vina Qurrotul’ Uyun           (1404026009)
Lailin Najihah                         (1404026010)
Umi kholifah                          (1404026011)

FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI TAFSIR HADIS
UNIVERSITAS NEGERI WALISONGO SEMARANG
2015
I.       PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Semua makhluk yang hidup didunia ini hidup karena di beri kehidupan oleh Dzat yang Maha Hidup. Dan dengan berjalannya waktu makhluk yang semula hidup kemudian mati karena di matikan oleh Dzat yang tidak tersentuh oleh kematian, yaitu Allah SWT.
Sampai kapan atau sampai berapa lama makhluk itu akan bertahan hidup? Semua Mutlak kehendak dari Dzat yang Maha Menghendaki. Sebagaimana setiap jiwa yang telah lepas dari badan akan menemukan tempatnya tersendiri. Dan bahkan orang yang telah mati tidak merasakan betapa panjang waktu berjalan.baginya, tiada siang dan malam, tak mengenal angka dan bilangan. Dan bahkan terkadang tidak merasakan bahwa dirinya tidak mengetahuinya bahwa ia telah mati dan sudah berbeda alam dengan yang sebelumnya.
Dan adakah diantara makhluk ciptaan Allah yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian yang menghampirinya? Allah berfirman dalam surat al-Anbiya’ ayat 35 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Ya, setiap dari makhluk yang bernafas, terlebih lagi manusia insya Allah telah menyadari dan menyakini tentang hal itu. Tetapi kebanyakan manusia telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian yang lebih bisa disebut dengan alam barzah. Perlu diketahui juga bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Karena itu, Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Oleh karena itu, dalam membahasan makalah ini, akan sedikit menguraikan tentang alam barzah.


B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1.      Apa Pengertian Hidup dan Mati?
2.      Bagaimana perjalanan menuju Alam Barzah?
3.      Apa Pengertian Alam Barzah?
4.      Bagaimana Komunikasi Penghuni Dunia dengan Penghuni Alam Barzah?
5.      Bagaimana siksa dan kenikmatan di Alam Barzah?
6.      Bagaimana keadaan Roh di Alam Barzah?



II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hidup Dan Mati
Semua orang mengetahui apa hidup dan mati itu. Hidup dan mati adalah dua hal yang pasti akan dirasakan oleh setiap makhluk yang bernyawa. Kalau hidup pasti akan merasakan mati.[1] Namun apabila dikaitkan dengan makhluk atau alam, pengertian hidup dan mati menjadi tidak sederhana lagi. Manusia hidup dan manusia mati tentu tidak sama seperti halnya dengan bumi.
Dalam al-Qur’an hidup dan mati itu ditunjukkan dalam firman Allah, yaitu :
وَاللّهُ يُحْيِـي وَيُمِيتُ
“Allah menghidupkan dan mematikan.”
وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”
Al-Azhari meriwayatkan dari al-Laitsi bahwa maut adalah salah satu makhluk Allah SWT. Dan dari sumber yang lain berkata bahwa maut adalah kebalikan dari hayat (hidup). Maut berasal dari kata mata-yamutu-mautan, yang artinya bagian akhir.[2]
Oleh karena itu, manusia di katakan hidup bila ruh atau nyawanya masih menyatu dengan jasadnya. Dan bila keduanya terpisah dan tidak kembali lagi, namanya manusia itu mati. Terkadang ruh atau jiwa itu meninggalkan jasadnya sementara waktu lalu kembali lagi. Kepergian ruh atau jiwa meninggalkan jasad, baik untuk sementara waktu maupun selamanya atau seterusnya, bukanlah kemauan jasad atau ruh. Akan tetapi, inilah hak sepenuhnya atas Kehendak Dzat yang mempertemukan jasad dan ruh itu untuk pertama kali, Yaitu Allah SWT.
AllAh swt berfirman dalam surah az-Zumar ayat 42:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
       “Allah memegang jiwa orang ketika matinya, juga memegang jiwa orang yang belum mati pada waktu tidurnya. Maka Dia tahanlah jiwa orang yang Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan jiwa yang lain,sampai pada waktu yang telah di tentukan. Sesungguhnya hal itu menjadi bukti kekuasaan Allah bagi kaum yang mau berfikir.”

B.     Perjalanan Menuju Alam Barzah
Perjalanan menuju alam Barzakh diawali dengan berpisahnya ruh dari jasad manusia. Ini adalah saat yang penting bagi perjalanan manusia selanjutnya. Jika saat pelepasan ruh tersebut seseorang dalam keadaan beriman kepada Allah, maka kehidupan selanjutnya adalah keindahan dan kenikmatan. Kematian dalam iman inilah yang kemudian dikenal dengan istilah husnul khatimah (penutup yang baik).
Namun sebaliknya, jika pelepasan ruh seseorang bersamaan dengan hilangnya iman, maka hal ini akan menjadi awal dari sebuah penderitaan yang panjang dan tidak berkesudahan. Keadaan yang demikian ini kemudian dikenal dengan istilah su'ul khatimah (penutup yang buruk). Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang bertemu Allah (meninggal) sedangkan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka pasti ia masuk surga. Dan tidak akan berbahaya baginya kesalahan sebagaimana jika ia meninggal dalam keadaan musyrik, maka ia akan masuk neraka dan tidak akan bermanfaat kebaikan yang ia lakukan." (HR. Ahmad dengan rijal/nara sumber yang shahih/Majma'uz Zawa'id Juzl hlm. 3).[3]

C.     Alam Barzah (Kubur)
Barzakh (bahasa Arab برزخ) adalah alam kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat. Barzakh menjadi tempat persinggahan sementara jasad makhluk sampai dibangkitkannya pada hari kiamat. Penghuni barzakh berada di tepi dunia (masa lalu) dan akhirat (masa depan). Menurut syariat Islam di alam Barzakh ini, sang mayat akan bertemu dengan para Malaikat Munkar dan Nakir, sedangkan ada pendapat lain ada yang mengatakan jika yang mereka datangi adalah orang mukmin yang diberi taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama Mubassyar dan Basyir.[4]
Perkataan Barzah adalah bahasa al-Qur’an, terdapat dalam tiga tempat, yaitu ayat Q.S al-Mu’minun ayat 100, al-Furqan ayat 53, dan ar-Rahman ayat 20 yang Artinya batas.
 Q.S ar-Rahman ayat 20 dan al-Furqan ayat 53 kata-kata barzah menyatakan batas antara dua laut yang tawar dan yang asin. Sedang pada Q.S al-Mu’min ayat 100 menyatakan antara dua  hidup, yaitu antara hidup di dunia kini dan di akhirat nanti. Bunyi ayat tersebut sebagai berikut:
Q.S. al-Mu’min ayat 99-100
حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِلَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga ketika maut dating pada seseorang mereka,dia akan mengatakan,”ya tuhanku kembalillah aku (hidup di dunia)” “Semoga aku dapat berbuat seperti orang yang shaleh tentang apa-apa yang telah aku tinggalkan.Awaslah bahwa hal itu hanyalah kalimat yang di katakan, dan dari belakang mereka ada batasan sampai pada hari  mereka di bangkitkan.”
 Ayat di atas menceritakan tentang hal ihwal orang kafir akan matinya, bahwa orang-orang yang jahat atau lalai agar ia di beri kesempatan lagi untuk hidup lebih lama. Agar ia dapat berbuat baik untuk memperbaiki kembali riwayat hidupnya yang sesaat itu. Tetapi kata tuhan bahwa ajalnya telah tiba dan barzah sudah menunguinya sesudah itu.
Kemudian ayat tersebut juga terang menyatakan bahwa barzah itu berlaku semenjak ia mati hingga hari berbangkit di akhirat nanti. Dengan demikian, dapat di katakan bahwa barzah itu adalah batas antara dua hidup, yaitu antara hidup di dunia dan hidup di akhirat.
Dan pada Q.S al-Infitar ayat 4 lebih jelas di katakan bahwa pada permulaan kiamat (berdiri di akhirat) itu, kubur-kubur di bangkit (di bongkar). Bunyi ayatnya sebagai berikut:
وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
“Dan ketika itu kubur-kubur di bongkar”.
 Dari keterangan beberapa ayat di atas dapat   pula di katakana bahwa masa barzah itu adalah masa matinya manusia, dengan kata lain dapat di katakan bahwa barzah dan kubur hampir bersamaan waktunya.
 Kubur atau Barzah bukanlah alam lain dari dunia ini, bukan pula akhirat. kalau alam akan di bagi ,maka hanya ada dua yaitu dunia dan akhirat. sementara dalam dimensi lain dapat di bagi alam ini menjadi alam konkrit, gaib, dan abstrak namun dalam dimensi masa atau waktunya  alam ini hanya ada dua yaitu alam dunia dan akhirat. Tidak ada alam lain dari itu. Maka alam barzah tak lain dari baagian alam dunia ini. Kini pun ada barzah bagi mereka yang telah mati dan berlaku hingga dunia kiamat atau hingga berbangkit kelak di akhirat.
Barzah adalah batas antara hidup di dunia dan hidup di akhirat. Mungkin mengandung waktu yang lama hingga beribu tahun menurut perhitungan duniawi atau pun sebentar. Orang yang mati berada di barzah. Baik rohnya maupun jasadnya. Dan kalau di istilahkan dengan alam, maka dapat di istilahkan alam mati menurut bahasa Indonesia, dalam arti masa mati, karena manusia itu dalam keadaan mati.[5]
Di dalam kubur tidak terdapat aksi dan interakasi, kecuali aksi sepihak dari tuhan atas unsur jasadnya misalnya sebagaimana  keadan tanah dan sekitarnya. Sebagai  benda konkrit, jasadnya tentu dapat di katakan hidup bagai kehidupan atom. Tetapi rohnya tak teruraikan lagi oleh manusia, kesemuanya penuh terserah kepada Allah swt.

D.    Jalur Komunikasi Penghuni Dunia dengan Penghuni Barzah
Allah adalah Robbul ‘alamin yang mengatur dan mengendalikan sepenuhnya seluruh alam, termasuk alam dunia dan barzah. Allah masih membuka jalur hubungan antara penghuni dunia dan penghuni akhirat, meski sangat terbatas, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang di atur-Nya. Ada peristiwa, kejadian dan hal-hal yang menunjukkan masih adanya jalur komunikasi tersebut. Misalnya :
Riwayat seperti yang telah di tuturkan di muka bahwa rosullah saw mendatangi sumur tempat pembuangan bangkai dari tokoh-tokoh Quraisy yang mati dalam perang uhud seraya memanggil-manggil nama mereka dan menanyakan apakah telah mendapatkan kebenaran dari apa yang telah di janjikan oleh Allah.dan beliau menegaskan bahwa mereka dapat mendengar apa yang beliau katakan.
Dalam kisah isra’-mi’raj, Rosullah saw berjumpa dengan nabi-nabi dan saling bercakap-cakap sesamanya. Di tunjukan-Nya keadaan alam barzah beserta penghuninya kepada sebagian hamba-hamba Allah yang Dia kehendaki. Kitab ar-Ruh oleh Imam Ibnul Qayyim, dan Syarhus Shudur oleh Imam as-Syuyuti banyak menyebutkan contoh-contohnya.
Diperjumpakan-Nya lewat mimpi ruh orang-orang hidup dengan ruh orang-orang yang sudah berada di alam barzah, dan mereka dapat saling bercakap-cakap. Di perlihatkannya amal orang-orang di dunia kepada orang-orang yang berada di alam barzah. Doa orang di alam barzah untuk keluarganya di alam dunia. Perbuatan-perbuatan buruk dari penghuni dunia menyusahkan penghuni barzah. Hubungan yang lebih jelas dan lebih nyata arahnya adalah beberapa ketentuan syariat seperti: Sholat janazah dan doanya di laksanakan penghuni dunia, dan bermanfaat penghuni alam barzah.
Terus menerus mengirim pahala dari alam dunia kepada penghuni alam barzah, baik berasal dari amal yang di kerjakannya sendiri misalnya ilmu yang bermanfaat yang pernah ia ajarkan, amal jariah, doa anak saleh yang di tinggalkan dan sebagainya. Atau sepenuhnya dari orang lain, misalnya doa dan istighfar dari sesama mu’min, sadhaqah dari kerabat maupun orang lain. Hutang dan tanggungan hak-hak adami, dapat di lunasi penghuni dunia; baik yang melunasi itu anak, family, atau orang lain sekalipun.
Hutang dan tanggungan-tanggungan kepribadatan, misalnya hutang puasa,hutang nadzar, zakat, haji, dan lain-lain. semua itu dapat di lunasi oleh penghuni dunia dengan syarat-syarat yang di perlukan. Amalan-amaln sunah dari penghuni dunia pahalanya dapat di hadiahkan kepada penghuni barzah. Misalnya shalat, puasa sunah, shadaqah sunah, bacaan Qur’an, tahlil, dan lain-lain.

E.     Siksa dan Nikmat di Alam barzah
Ada sekian ayat dan hadits yang dijadikan dalil oleh mayoritas ulama’ yang menyakini adanya alma barzah serta siksa dan kenikmatannya. Harus diakui bahwa sebagian ayat yang mereka kemukakan tidak secara jelas, apalagi pasti, menerangkan tentang hal itu. Demikian juga riwayat-riwayat yang dikemukakan, sebagian diantaranya sangat jelas ketidak shahihannya. Namun sebagian lainnya sangat sulit ditolak jika penolakannya berdasarkan kaidah-kaidah ilmu riwayat.
Dari ayat al-Qur’an kita dapat menunjukkan kepada firman-Nya pada surat Ghafir ayat 46, yang menguraikan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya bahwa : “Api neraka dinampakkan kepada mereka pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada para malaikat): masukkanlah pengikut-pengikut Fir’aun (bersama Fir’aun) ke siksa yang paling keras”.
Jika melihat kepada mereka, diketahui bahwa disetiap pagi dan petang ditampakkan neraka kepadanya. Tentu saja itu tidak terjadi didunia, karena tidak mungkin mereka melihatnya didunia ini. Nah, jika demikian, itu terjadi setelah mereka meninggal dunia. Tetapi karena lanjutan ayat ini menyatakan bahwa “dan pada hari terjadinya kiamat” diperintahkan kepada malaikat untuk memasukkan mereak ke neraka, maka penampakan neraka kepada mereka tentulah terjadi sebelum terjadinya kiamat. Dari satu sisi, ini menunjukkan bahwa mereka hidup di satu alam yang berbeda dengan alam dunia.
Disana pandangan mereka lebih tajam dari pandangan di dunia ini, karena mereka telah dapat melihat neraka. Di sisi lain, melihat neraka yang akan menjadi tempat mereka pastilah sangat mengerikkan, dan ini berarti siksa yang luar biasa, sebelum mereka mendapatkan siksa yang lebih berat lagi, yakni benar-benar terjerumus ke dalam neraka.
Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa kehidupan di alam barzah itu, berlanjut sampai hari kiamat, dan dengan firman-Nya yang berbicara tentang barzah  yang merupakan dinding pemisah antara dunia dan akhirat.
Salah satu dari sekian banyak hadits yang dapat menguatkan adanya apa yang dinamai siksa kubur yakni siksa di alam barzah hadits yang menyatakan bahwa suatu ketika Rasulullah melewati salah satu tembok (kuburan) dari tembok-tembok kota Madinah, dan beliau mendengar suara dua orang yang merintaih. Rasulluh bersabda “keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang pertama tidak mencuci bersih bekas kencingnya, dan yang kedua berjalan mengedarkan isu yang memecah belah.” Kemudian beliau meminta diambilkan dahan pohon kurma, lalu beliau belah dua dan meletakkan pada masing-masing kubur. Beliau ditanya sahabat: mengapa melakukan itu? Rasulullah menjawab “semoga itu meringankan siksa mereka selama dahan itu belum kering”. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Abbas)
Sekali lagi, bila berdasar ilmu hadits apa yang diinformasikan diatas adalah sepenuhnya shahih. Sangat sulit menolaknya, kecuali jika akan ditolak berdasar penggunaan akal oleh mereka yang tidak percaya. Sekian banyak riwayat lain yang berkaitan dengan siksa ini, karena itu ditemukan pula do’a dan anjuran Rasulullah agar kaum muslimin memohon perlindungan dari siksa api neraka.
Jika kita mengakui adanya siksa bagi yang durhaka, maka tentu ada juga nikmat bagi yang taat. Dalam al-Qur’an surah Ali imron ayat 169-170 ditegaskan bahwa para syuhada’ hidup disisi Allah dan bahwa mereka memperoleh rizki dari-Nya.
Kalau merujuk kepada Sunnah kita menemukan banyak sekali riwayat menyangkut kehidupan di alam barzah. Misalnya bahwa orang-orang mati saling menziarahi dikubur mereka (di alam barzah). (hadits riwayat at-Tirmidzi melalui Sa’id), juga bahwa mereka mengetahui keadaan keluarga mereka yang masih hidup di dunia. (H.R. Ahmad melalui Anas Bin Malik), karena itu ada pesan agar “ jangan mempermalukan keluarga yang telah wafat”, dan masih banyak lainnya. Kendati sebagian riwayat-riwayat tersebut lemah atauuu diperselisihkan nilainya, namun banyaknya riwayat yang sebagian diantaranya sangat kuat, menjadikan kita sulit untuk mengingkari siksa dan kenikmatan di alam tersebut hanya dengan alasan yang berdasarkan logika alam dunia dan hokum-hukum yang berlaku disin, padahal sebelum ini telah terbukti bahwa ada alam lain dan adanya juga hokum-hukum yang berlaku bagi yang berada disana. Ini serupa dengan hokum-hukum alam yang berlaku di luar angkasa yang berbeda dengan yang berlaku di bumi, sebagaiman aterbukti dan telah dialami oleh para antariksawan.[6]       

F.      Keadaan Roh dalam Alam Barzakh
   Roh nabi dan rasul
Roh mereka berada di tempat yang paling baik dan paling tinggi.
    Roh syuhada
Roh para syuhada berada di tengah-tengah burung hijau dan memiliki lampu yang tergantung di langit, roh itu dapat keluar dari surga sekehendaknya, kemudian bisa kembali ke pelita tersebut, menurut kisah dari Masruq ketika bertanya kepada Abdullah Bin Mas’ud. Firman Allah dalam Ali Imran ayat 169 :
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, tetapi mereka itu di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
Roh sebagian syuhada dan bukan semua syuhada, sebab di antara meraka ada yang rohnya tertahan karena memiliki hutang yang belum ditunaikan. Dari Abdullah Bin Jahsy diceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Muhammad dan bertanya, ”Ya Rasulullah apa yang terjadi padaku jika akau terbunuh dijalan Allah?” Muhammad menjawab, “Syurga,” Ketika orang berpaling, Beliau berpaling” kecuali ada hutang, baru saja Jibril memberi tahu aku.”
   Roh mukmin yang saleh
Roh mereka seperti burung yang begelantungan di pohon surga sampai dikembalikan oleh Allah ke jasadnya pada hari kiamat.  Perbedaan antara roh para syuhada dengan roh kaum mukmin adalah bahwa roh syuhada berada di sangkar burung hijau sambil terlepas berjasan ke sana kemari di taman syurga, lalu kembali ke lampu pelita yang tergantung di 'Arasy, sedangkan roh kaum mukmin berada di sangkar burung tergantung di surga tetapi tidak berjalan ke sana-ke sini di surga.
   Roh orang maksiat
Nash-nash yang menjelaskan azab yang diterima oleh orang yang suka maksiat telah dikemukakan. Orang yang kebohongannya merajalela di azab dengan besi yang ujungnya bengkok yang dimasukan kemulutnya sampai ke tengkuk. Kepala orang yang meninggalkan salat wajib karena tidur, kepalanya akan dihancurkan dengan batu. Bagi para Pezina Laki-laki dan Perempuan akan disiksa di sebuah lubang seperti tungku dari tembikar untuk membakar roti yang bagian atasnya sempit dan di bawahnya luas, sementara api menyala-nyala di bawahnya. Orang yang suka makan Riba berenang di lautan darah dan di tepi lautan darah itu ada orang yang melemparinya dengan batu. Demikian juga dengan orang yang suka mengadu domba di antara manusia dan juga orang yang menyembunyikan harta ghanimah dan lainnya.
    Roh orang kafir
Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa setelah melukiskan keadaan orang beriman sampai menempati tempatnya di surga, Muhammad menyebut keadaan orang kafir beserta sekarat yang dialaminya. Setelah rohnya dicabut, roh yang keluar dari jasad orang kafir baunya busuk sampai para malaikat yang membawanya ke pintu bumi berteriak, “Alangkah busuknya roh ini.” Kemudian mereka membawanya bertemu dengan roh-roh kafir lainnya.


III. PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Manusia di katakan hidup bila ruh atau nyawanya masih menyatu dengan jasadnya. Dan bila keduanya terpisah dan tidak kembali lagi, namanya manusia itu mati. Dan sebelum memasuki alam barzah terdapat perjalanan menuju kepadanya yaitu kematian (mati). Barzakh (bahasa Arab برزخ) adalah alam kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat. Perkataan Barzah adalah bahasa al-Qur’an, terdapat dalam tiga tempat. Do’a merupakan salah satu jalan komunikasi antara alam dunia dan alam barzah. Didalam alam barzah juga terdapat beberapa tingkatan-tingkatan roh.

B.     SARAN DAN KRITIK
Saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan oleh penulis dalam memperbaiki makalah ini, karena penulis tahu bahwa dalam penulisan makalah ini banyak sekali terdapat kesalahan dan kekurangan dan jauh sekali dari kata sempurna. Wallahu ‘alam bissawab.


DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. 1993. Alam Kubur dan Seluk-beluknya. Jakarta : PT. Rieneka Cipta.
Abdullah, Supriyanto. 2008. Misteri Ruh, Mimpi dan Orang-orang hidup setelah Mati. Yogjakarta : Citra Risalah.
Lubis, Dalimi. 1981. Alam Barzakh (Alam Kubur). Jakarta : Ghalia Indonesia.
Shihab, Quraish. 2001. Perjalan menuju Keabadian Kematian. Surga dan Ayat-ayat Tahlil. Jakarta : Lentera Hati.
http://wikipedia.org/wiki/Pengertian_Alam_Barzah.  Diakses pada 19-05-2015. 15.30.




[1] Zainal Abidin, Alam kubur dan Seluk-beluknya, Jakarta, Rineka Cipta, 1993, hlm 29
[2] Supriyanto Abdullah, Misteri Ruh, Mimpi dan Orang-orang yang Hidup setelah Mati, Yogyakarta, Citra Risalah, 2008, hlm 10
[3] alifkaputriiblogspotcom201410makalah-tentang-alam-barzakhhtml
[4] http://wikipedia.org/wiki/Pengertian_Alam_Barzah
[5] Dalimi lubis, 1981,  Alam barzah, Jakarta, Ghalia Indonesia, hlm 198.
[6] Quraish Shihab, Perjalan menuju Keabadian Kematian, Surga dan Ayat-ayat Tahlil, Jakarta, 2001, hlm 100-103